Cerbung Filosofi Randa Tapak "Kematian Tak Boleh Matikan Harapan" Halaman 2 Karya Muraz Riksi - SAMPAH KATA
https://www.idblanter.com/search/label/Template
https://www.idblanter.com
BLANTERORBITv101

Cerbung Filosofi Randa Tapak "Kematian Tak Boleh Matikan Harapan" Halaman 2 Karya Muraz Riksi

Saturday, 27 March 2021

 


HALAMAN 2

JURNAL AYAH & SURAT IBU
Lembah Telaga Mane

Jauh dari keramaian kota, dari bisingnya mesin-mesin penghasil noda udara, hanya ada warna hijau yang terpampang dari kejauhan. Saat pagi tiba, cahaya hangat ikut menguap bersama kicauan burung-burung yang terbang bahagia. Udara yang sejuk juga ikut melukiskan kedamaian dan ketentraman hidup. 

Pohon-pohon besar berdiri kokoh nan lebat seakan menyirat tanahnya surga. Tempat dengan jarak 37 KM dari pusat kota, para penduduk yang ramah dan kerbau-kerbau yang mengendarai gerobak tuannya. Bukit-bukit kecil menjadi pagar. Lembah dan sungai jernih menjadi tempat bermainnya anak-anak. Ujung jalan berdiri sang pemimpin melihat masyarakatnya tengah riang bertani. Sapaan hangat menjamu pemimpin itu, dialah sosok Petua Adat. 

Setiap kami melewati jalan di pinggiran sawah, para petani selalu menegurnya. Mereka sangat menghormatinya, tak pernah ada keributan mewarnai Lembah. Petua Adat selalu tegas dengan kebenaran, tak gentar dengan ancaman dan terus berdiri di depan. Lembah Telaga Mane penduduknya hanya 47 KK, terbentang dengan hamparan sawah dan sungai-sungai kecil yang jernih. 

Pagar batasan lembah adalah rimba raya dengan bukit-bukit hijau bersama pohon-pohon tua. Sebagian masyarakat beraktivitas sebagai peternak lembu dan kambing. Petua Adat adalah seorang penjaga budaya dan pelestari warisan endatu. Itu sebutan dan gelar untuknya yang diberikan oleh masyarakat Lembah Telaga Mane. Lembah Telaga Mane jauh dari kehidupan modern bahkan tidak ada sama sekali mesin penghasil karbon dioksida, pengkotor udara juga suara bising perusak telinga. 

Tahun 1992 aku datang sebagai Mahasiswa Pendidikan Antropologi untuk melakukan penelitian tentang adat budaya Aceh. Pala Kusuma, ya itu aku. Sebagai salah satu putra Aceh yang lahir di Kota Banda Aceh dan sedang meretas cita di Universitas Negeri Medan. Hari pertama melangkahkan kaki di Lembah Telaga Mane, Petua adat dengan hangat menyambutku, aku sangat tidak percaya dengan kehidupan di Lembah ini. Petua adat mengatakan kepadaku, “adat adalah warisan endatu wahai anakku, setiap kehidupan yang ananda lihat di tempat ini adalah duplikat dari sejarah yang ada di hikayat-hikayat dan buku-buku tentang budaya Aceh”.

“Bukankah bangsa ini sudah maju, banyak teknologi modern telah ada, kendaraan-kendaraan hebat telah masuk ke kota yang sangat membantu kehidupan kita. Kenapa di Lembah ini, benda-benda semacam itu tak nampak dimata?, bahkan rumah-rumah di sini juga masih rumah panggung yang terbuat dari kayu”, tanya Pala pada petua adat. Petua adat tersenyum, ia bangun dari duduknya dan menepuk bahuku. “Nak, bangsa ini memang telah maju, kemerdekaan telah jadi pemersatu. Berbagai suku, adat dan budaya, semua itu adalah warisan yang harus kita jaga. Pepatah dahulu, “Adat bak poe teu meu ruhom, hukom bak syiah kuala, matee aneuk meupat jeurat, gadoeh adat hana pat tamita”. Aku bingung, termenung mendengarnya.

Bidadari berselendang turun dari rumah panggung membawakan dua gelas kopi hitam. “Bang silakan diminum kopinya” serunya kepadaku. Aku terpesona dengan kesederhanaannya dan mataku tak lekang dari langkahnya menaiki rumah panggung. Sore itu, suasana Lembah Telaga Mane semakin menggugah pandangan. Semua penduduk berjalan kaki berombongan, ada yang dari kebun, sawah dan kandang ternak. 

Petua adat ialah Abu Malek, menegaskan padaku “Kemajuan adalah hal penting, tapi jangan sampai merusak adat budaya. Saya tidak melarang penduduk untuk maju, berpendidikan tinggi, memiliki semua bentuk fasilitas modern. Masyarakat dan Petua Adat yang dulu telah membuat qanun, semua benda-benda modern tidak boleh masuk kepekarangan Lembah ini”. “Makanya saat nak Pala kemari, di perbatasan Lembah, semua benda-benda modern disita sama penjaga kan?”. Aku kembali tersenyum, bingung dan termenung. “Apa yang salah dengan kemajuan?, bukankah dengan adanya teknologi merupakan bentuk dari majunya sebuah peradaban”, pikirku.

“Mungkin masyarakat disini terlalu berlebihan menanggapi tentang kemajuan modern atau kekhawatiran yang tidak masuk akal tentang terkikisnya budaya”, jawabku dalam hati. Langkah kaki mengantarkan kebingungan pulang pada lingkungan hidupnya. Mengambil semua barang-barang yang disita oleh penjaga perbatasan dan senja pun menjadi akhir dari kisah penelitianku dihari pertama.

Perjalanan pulang dari arah selatan, melihat kehidupan sudah tidak lagi menggambarkan ke-Acehan. Adanya kendaraan yang lalu lalang, menikung satu sama lain. Melihat banyak lelaki menghabiskan waktu bercengkrama di warung-warung kopi. Inikah Acehku?, seperti inikah westernisasi melahap tanah serambi?, kendaraan roda empat melaju menyerobot masuk ruang jalan tanpa peduli pada orang-orang  yang sedang berjalan kaki. Tiba di persimpangan, banyak pengemis berceceran, meminta-minta, seakan negeri ini telah lama dihantam badai kemiskinan. Suara musik, karoke bahkan anak-anak dibawah umur jalan bergandengan malam-malam.

Rumah peristirahatan, pagar tembok, beton-beton berbarisan, melangkah masuk dengan sejuta pertanyaan, berhembus gerimis kebingungan. Apakah aku tersesat saat pulang?, apakah ini rumahku?, beginikah kehidupan di sekelilingku?, ada apa? Apa yang terjadi denganmu Acehku?, Indonesia yang kutahu adalah negeri seribu budaya, negeri yang kokoh bersuku dan berbangsa, yang disatukan dalam Bhinneka Tunggal Ika. 

Seakan tersesat jauh dari tanah airku. Badan jatuh dalam pelukan kamar, meraung kesakitan akan hujatan-hujatan pikiran hingga malam tua telah melampiaskan semua kemunafikan. Ketidaksadaran oleh penipuan budaya barat, yang telah menyebar luas, terpampang di atas tanah kaya, meluap-luap laksana banjir bandang yang menerjang mental-mental muda. Malam kian larut, kelelahan terus melilit dan menjatuhkan raga pada kematian suri.

Jangan Sampai Tercemar
Hari kedua, Lembah Telaga Mane dengan semua fasilitas mewah harus ditinggalkan. Pagi cerah, udara segar, pohon-pohon rindang, ternak-ternak bermain dan berlarian, langkahku beriringan mengikuti angin menuju perkampungan. 

Udara sejuk, jauh dari polusi yang mengusik paru-paru, membekukan hati yang panas oleh semua hiruk pikuk kemarukan. Persetan dengan mereka yang berebut kedudukan, pikirku sambil berjalan. Sambutan hangat masyarakat setempat, senyum sumringah mekar tanpa bujukan atau paksaan. Petua adat, Abu Malek sedang duduk di rangkang depan rumah panggungnya. Mendengung, anak-anak kecil berkumpul mendengarkannya yang sedang bersyair :

Meukrue seumangat rahmat meusampo

Bak aneuk cuco neuduk geunareh

Bak saboh ireh reuleh syedara

Bak but duk keu raja leu jeut keu wareh

Oh wate kabeh so turi le hana

        Ingat aneuk nasihatnyo beu ta pateh

        Seugolom abeh jeulame yang kana

        Bak but donya le yang seumateh

        Mita leubeh publo agama

        Kruuu seumangat...

Langkahku semakin cepat, syair itu semakin melekat. Teringat masa kecilku saat duduk dengan kakek.

“Assalamualaikum Abu?” salamku ketika bertamu.

“Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh” Jawabnya Abu.


Pagi ini semakin merekah, menggebu-gebu ingin mengenal Aceh yang seutuhnya. Abu berkata, “kita akan berjalan-jalan mengelilingi Lembah. Sambilan nak Pala melakukan penelitian”. Bidadari dari rumah panggung keluar, “Abu mau dibuatkan kopi?, Ummi pun baru siap buat pisang goreng?”. “Buatkan 2 gelas kopi, sampaikan sama Ummimu, Abu mau keliling Lembah, menemani nak Pala melakukan penelitian”, pesan Abu pada putrinya. 

Tak lama kemudian, bidadari berselendang turun membawakan kopi dan pisang goreng. Aroma kopi menggugah selara, tajam mengiris indra penciumanku, melarutkan waktu hingga setengah jam di rumahnya abu. “Nak Pala, sudahkah kopinya itu dihabiskan?, mari kita berangkat mengelilingi Lembah”, kata Abu yang sembari tersenyum menatap wajahku.

Matahari yang menjulang di ufuk timur, kiri-kanan pepohonan rindang tumbuh nan subur, kaki pun terus berjalan. Semua orang sedang dengan rutinitasnya, ada yang ke ladang dan ada juga yang ke kandang ternak. Saat bertatapan dengan penduduk, mereka semua memberi salam kepada Abu. Saat bertemu dengan anak kecil, mereka memberi salam dan mencium tangan Abu sembari menunduk. 

Tiba kami di bentangan lahan sawah, terlihat kerbau yang membajak sawah, terlihat perempuan-peremuan berselendang sedang bercocok tanam. Air mengalir dengan riak-riak kecil pada saluran, terlihat banyak ikan sedang berenang di dalamnya. Air-air itu masuk dan tergenang dalam lahan sawah. 

Abu tersenyum kepadaku, ia berkata, “adakah nak Pala perhatikan?, Laki-laki dan kerbau yang membajak sawah itu, perempuan-perempuan yang sedang bercocok tanam?. Para petani disini saling membantu sama lain, perempuan-perempuan yang sedang bercocok tanam itu sedang tung upah (gotong-royong), mereka membayar jasa menanam adalah dengan menanam di lahan sawah tetangganya dan tetangganya juga melakukan hal yang serupa. 

Nak Pala perhatikan anak-anak kecil itu, mereka sedang mengambil ikan di lahan sawah. Burung-burung putih yang banyak itu juga sedang mengambil ikan berebutan dengan anak-anak itu”. Abu tersenyum kepadaku, ia kembali bertanya, “adakah nak Pala lihat lahan sawah yang ekosistemnya masih terjaga dengan baik di luar sana?. 

Aku tersentak, antara terharu dan kagum. “Tidak lagi Abu”. “Di luar sana, mereka semuanya menghargai sesuatu dengan uang, ada sebagian orang menggunakan mesin untuk membajak sawah, mesin-mesin yang melakukan penanaman, mesin-mesin yang melakukan pemotongan padi hingga dimasukkan kedalam karung. 

Tidak ada lagi rasa kebersamaan dan gotong-royong, telah hilang budaya itu. Sebagian petani, membayar orang-orang untuk membajak sawah, menanam, sampai pada proses memanen. Belum lagi penggunaan zat kimia mulai dari pupuk hingga pestisida. Sangat jarang bisa melihat panorama alam yang indah ini, burung-burung, ikan-ikan hingga kerbau-kerbau yang membajak sawah itu”, jawabku sembari cengar-cengir sendiri.

Budaya tolong-menolong tidak lagi melekat di jiwa kita, segala sesuatu harus berdasarkan uang. “Nak Pala, inilah warisan yang masih kami jaga, pertanian di sini masih alami, ekosistem sawah juga masih terlindungi dengan baik. Para petani mengendalikan hama penyakit secara hayati sehingga beras yang dihasilkan bebas dari zat kimia”. 

Abu tersenyum kepadaku dan lagi-lagi ia melontarkan kalimat tanya, “Bukankah pertanian secara alami yang dianjurkan pemerintah sekarang ini?. Sehingga beras-beras yang kita hasilkan bisa di ekspor keluar negeri”. Aku tersenyum mendengarkan pertanyaan Abu. Pikirku, “Adat-budaya itu lebih penting rupanya, ternyata tidak hanya berdampak untuk masyarakat tetapi juga kepada alam, tidak hanya berdampak pada perilaku orangnya tapi juga kepada kehidupan sekitar dan makhluk-makhluk lain ciptaan Tuhan. 

Aceh telah ternoda, dari zat kimia yang merusak kepedulian, dari kehidupan ala barat yang mengubah bentuk pemikiran. Tidak ada lagi sikap saling peduli, adanya hanya berlomba-lomba mengumpulkan kekayaan. Aceh telah ternoda oleh karbon dioksida produksi manusia yang menghancurkan peradaban, bagaikan virus menyebar luas”.

Selesai memperhatikan lahan sawah, Abu mengajakku ke sudut Lembah sebelah timur, di sana terlihat bukit-bukit hijau. Ladang-ladang yang dipagari tanaman, pohon-pohon besar berdiri kokoh, suara gemercikan air mengalir masuk ke dalam telinga, udara sejuk menembus pori-pori kulit seakan membersihkan paru-paru dari karbon dioksida. 

Air sungai jernih menenggelamkan batu-batu, tak berbau, tak ada sampah manusia dibawanya. Seteguk saja, inginku dapat  meminumnya. Sambil duduk jongkok, aku mengambil dengan tangan dan meminumnya. Rasa segar mulai mengalir masuk lalu menjalar ke dalam tenggorokan, melepaskan dahaga yang mengikat relung dada kehidupan. Abu tersenyum melihat tingkahku. 

Abu bertanya kepadaku, “mengapa nak Pala berani meminumnya?”. “Airnya sangat jernih Abu, menyegarkan tenggorokan, sungainya bersih dari sampah-sampah sehingga membuat saya berani meminumnya”, jawabku sembari tersenyum. “Ini belum seberapa dengan yang Nak Pala lihat, menginaplah di sini, besok ikutlah mengembala bersama Salihin. 

Nak Pala akan lihat Lembah dari atas puncak bukit. Selepas itu ceritakanlah pada Abu apa yang nak Pala pelajari dari mengembala itu”, seru Abu. Aku hanya mengangguk riang, tak dapatku bayangkan hal apa yang akan ku temui esok.


*****

        Itulah beberapa lembar jurnal ayahku yang terselip rapi pada buku catatan Ibu. Seusai membacanya, aku ingin mendaki ke bukit itu, pelajaran apa yang dimaksudkan kakekku dan mengapa ayahku tidak menyelesaikan tulisannya.

<<< Halaman 1                       Lanjut Baca KLIK >>> Halaman 3


(Catatan Penting)

Filosofi Randa Tapak merupakan Novel Karya Muraz Riksi yang terdiri dari 2 bagian diantaranya "Bagian 1 Lembah Telaga Mane dan Bagian 2 Negeri Antara".

Dalam hal ini admin menekankan bahwa sumber tulisan dan hak cipta sepenuhnya milik penulis. Selamat membaca!.

Profil singkat penulis :
- Instagram Muraz Riksi
- Youtube Indie Official Poem Muraz Riksi


Terima kasih telah berkunjung ke website Sampah Kata.
Salam kopi pahit...

Seniman Bisu
Penulis Amatiran Dari Pinggiran
Secarik Ocehan Basi Tak Lebih Dari Basa-Basi


Sampah Kata

Seniman Bisu