Cerbung Filosofi Randa Tapak "Mendaki Tanpa Kepastian" Halaman 4 Karya Muraz Riksi - SAMPAH KATA
https://www.idblanter.com/search/label/Template
https://www.idblanter.com
BLANTERORBITv101

Cerbung Filosofi Randa Tapak "Mendaki Tanpa Kepastian" Halaman 4 Karya Muraz Riksi

Monday, 29 March 2021

 


HALAMAN 4

Aku tiba di sebuah tempat yang menyeramkan, gedung-gedung besar yang tak berpenghuni. Kita dimana bang?, tempat apa ini?. Ini adalah rumahnya bang Surya, tempat semua pejalan tinggal dan bekerja. 

Selain rumah, ini juga kantor bagi kami. Kami adalah tim 
Guide yang memandu peneliti dan wisatawan asing dalam melakukan pendakian dan pemetaan lingkungan. Kemari akan abang kenalkan dengan bang Surya.

Bang Surya mengajakku duduk melingkari api unggun lalu menawarkan secangkir kopi. Pandanganku terhadap para gerombolan gondrong ini berubah seketika. Kesantunan dalam menghargai tamu menjadi nilai lebih bagiku. 

Aku duduk 
mendengarkan mereka sedang berbicara tentang tujuan dari pendidikan. Adalah obrolan tentang tujuan pendidikan yang membuat diskusi mereka pecah. 

Menurut mereka, s
etiap tahunnya perguruan tinggi negeri maupun swasta menerima ribuan mahasiswa baru dan setiap tahunnya juga meluluskan ribuan sarjana dengan berbagai jurusan, tapi tidak menjamin mereka untuk tidak menjadi pengangguran.

“Mengapa demikian?” Terdengar hentakan suara dari sudut lingkaran.

“Seharusnya pemerintah membuat regulasi yang membatasi jumlah penerimaan calon mahasiswa baru pada setiap perguruan tinggi. Supaya pengangguran juga bisa dikontrol”. Laki-Laki gondrong disudut kananku menimpali.

“Apalagi sekarang, semua berbondong-bondong mencuri start untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil”. Suasana kemudian cair ketika  argumen tentang PNS muncul.

Ah sudahlah, jangan lagi kita membahas tentang pendidikan. Coba perhatikan gelagat generasi muda sekarang bukannya fokus belajar malah pada pacaran, sahut salah satu dari mereka yang duduk melingkari api unggun. 

Tema 
pembicaraan pun berputar haluan, mereka mulai membuka pembahasan tentang perspektif pacaran. Diawali dengan sebuah pertanyaan dari laki-laki yang menggunakan jaket, kalau ada dua manusia yang saling mengikat janji dan berbagi suka maupun duka dalam kehidupan sehari-hari namun mereka tidak berpacaran. Nah bagaimanakah pandangannya dalam Islam?”.


Pacaran atau tidak, itukan hanya sebuah status, bila mereka menjalaninya dengan saling komunikasi via telpon atau berjumpa dan saling bertatapan muka, maka sama saja seperti orang yang berpacaran. Hal tersebut tidak dibenarkan dalam Islam. 

Kenapa demikian?, karena mereka pasti ada komunikasi via telpon genggam. Suara perempuan adalah auratnya dan laki-laki tersebut bukanlah muhrimnya. Kemudian saat mereka berjumpa, itu akan terjadi zina mata. Misalnya mereka berjanji jika berjumpa hanya boleh di rumah si perempuannya, maka datanglah si laki-laki untuk bertamu kerumah perempuan tersebut. 

Ketika mereka saling bertatap-tatapan maka telah terjadi zina mata atau salah satu dari mereka melihat anggota tubuh yang menggoda dan timbulnya nafsu maka itu juga telah terjadi zina. Banyak hal yang akan terjadi kalau berpacaran, karena pacaran adalah jembatan yang mengundang dosa. Sebaiknya jika sudah tahu maka jangan lagi diteruskan untuk berpacaran”.
 Jawaban panjang dari bang Dian, ia adalah laki-laki yang membawaku kemari.

Laki-laki yang menggunakan jaket itu kembali mengajukan kalimat tanyanya. 
“Kalau meraka sudah lama berpacaran dan dua manusia ini telah saling menyayangi, jika si laki-laki memutuskan hubungannya maka si perempuan akan sakit hati dan si laki-laki pun tidak ingin perempuan yang telah ia jaga dan perjuangkan serta telah ia sayangi menjadi milik orang lain. Lalu bagaimanakah mereka saling menyayangi tanpa lagi berpacaran dan tidak akan berdosa dengan Allah SWT?”.


“Jodoh itu takkan kemana. Bila memang betul mereka berdua saling menyayangi dengan tulus dan karena Allah maka cukuplah dengan istiqomah antara satu sama lain. 
Sayang itu kan tidak harus untuk berpacaran atau semacamnya

J
ika dua manusia itu memang benar saling menyayangi maka cukuplah dengan saling mendoakan.  Jika mereka memilki niat yang sama untuk berumah tangga dan sama-sama tahu tujuannya masing-masing maka si laki-laki harus berani menjumpai orang tua dari kekasihnya. Artinya cukup dengan menjaga hati masing-masing tanpa adanya status pacaran hingga tiba waktunya bagi mereka untuk berumah tangga.

Aku teringat
 kisah seorang teman. Ketika seseorang berpacaran lalu diputuskan pacarnya maka ia menangis dan bersedih diri. Apakah dengan menangis akan membuat pacarnya datang kembali?, tentunya tidak. Aku pernah bertanya pada salah seorang teman yang menangis karena diputuskan oleh pacarnya :

Apakah dia juga menangis seperti yang kamu lakukan?,

Jika kau menangis dan bersedih hati, apakah dia akan kembali?,

Kenapa kamu harus menangis untuk orang yang menyakitimu?,

Apakah cinta sekarang seperti itu ya?.

Ia menjawabnya :

“Aku sangat menyayanginya dan tak ingin kehilangan dirinya”.

Aku tanyakan lagi :

Berapa kali kamu pernah menangis karena pacarmu?, Kenapa kamu begitu peduli kepadanya?, Apakah kamu pernah pedulikan Ibu dan Ayahmu sampai engkau menangis?, 

Berapa kali kamu pernah menangis karena takut kehilangan orang tuamu?, Berapa kali kamu pernah menangis akan perjuangan Nabi Muhammad SAW untuk kita ummatnya?, 

Berapa kali kamu pernah menangis karena kasih sayang Allah SWT untukmu?, Berapa kali kamu pernah menangis atas semua dosa-dosamu?.

Temanku itu hanya terdiam saat mendengar kalimat tanya dariku. Selama ini anggapan kita tentang berpacaran untuk menjaga kekasih hati adalah hal yang benar, nyatanya merupakan sebuah kesalahan. 

Dalam Islam, berpacaran tidak diperbolehkan karena akan mengundang perbuatan zina. Terlepas Hubungan itu tidak berstatus pacaran tapi sifatnya juga akan sama seperti orang yang berpacaran. 

Hal tersebut adalah kebenarannya bagi seorang muslim yang bukan muhrim akan berdosa bila bertatap-tatapan yang mengandung hawa nafsu. Jawaban panjang bang Dian sembari ia tertawa kecil. 

<<< Halaman 1                         Lanjut Baca KLIK >>> Halaman 5


(Catatan Penting)

Filosofi Randa Tapak merupakan Novel Karya Muraz Riksi yang terdiri dari 2 bagian diantaranya "Bagian 1 Lembah Telaga Mane dan Bagian 2 Negeri Antara".

Dalam hal ini admin menekankan bahwa sumber tulisan dan hak cipta sepenuhnya milik penulis. Selamat membaca!.

Profil singkat penulis :
- Instagram Muraz Riksi
- Youtube Indie Official Poem Muraz Riksi


Terima kasih telah berkunjung ke website Sampah Kata.
Salam kopi pahit...

Seniman Bisu
Penulis Amatiran Dari Pinggiran
Secarik Ocehan Basi Tak Lebih Dari Basa-Basi


Sampah Kata

Seniman Bisu