Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Cerbung Filosofi Randa Tapak "Menulis dan Perjalanan" Halaman 7 Karya Muraz Riksi

 


HALAMAN 7


BAB TAPAK I
V
MENULIS DAN PERJALANAN

Kata-kata itu hanya frasa saat kesulitan kita lewati dengan keikhlasan. Mengubah yang tak bernilai menjadi bermakna. Senyum dan syukur atas nikmatNya. “Hal apa yang ingin kau lakukan dan apa yang akan jadi cita-citamu?” tanya bang Surya setelah aku membaca biografi Raja Menyibak Kehidupan Di Tanah Hitam. Sekarang aku mengerti hidup adalah perjalanan, petualangan dan aku telah memutuskan untuk belajar tentang kehidupan.


"Tanjakan Petualang"

Aku tidak hebat dalam mengeluh

Saat langkah kaki menanjak tangguh

Bergerak mencari secuil teduh

Dari kebisingan yang amat gaduh

Pohon-pohon kopi tanah guntai

Mengarungi setiap pijakan landai

Pintu rimba menyambut dengan santai

Saat perjalanan ini sudah dimulai

Jauh menawarkan misteri petualangan

Jauh menebarkan aroma pendakian

Jauh mengajak hasrat melirik hutan hujan

Jauh adalah tujuan yang mengikis pertanyaan

Aku tidak hebat dalam mengeluh

Hanya semangat yang terus tumbuh

Menanti puncak menikmati peluh

Memanjakan mata memandangi tanpa jenuh

Melawan pikiran yang menggoda keinginan

Menepis harap pada sebuah bayang

Tentang seseorang yang tak lagi ku kenang

Karena setiap kepergian selalu ada jalan pulang

Hidup adalah petualangan

Kadang kala tanjakan menghadang

Begitu pula dengan jalan turun yang curam

Adanya batu cadas menghujam

Hingga tanah gambut selimuti alam...

Gua Gunung Burni Telong, 17 Agustus 2017


Bolehkan aku tinggal bersama Bang Surya dan Bang Dian di tempat ini? Tentu, kau akan tinggal bersama kami. Seperti yang kukatakan tadi, kau adalah adikku. Kita akan melangkah bersama dan pelan-pelan mengenal tentang kehidupan.

Kata-kata Bang Surya adalah harapan baru untuk hidupku. Hari-hari kembali bermakna, cahaya jingga juga kembali bersahaja dan pagi tetap tak ingin kalah dengan senja. Semestinya jalan hidupku baru dimulai, entah apa yang akan menanti di depan atau apa yang harus kulakukan.

Benar di tempat ini aku merasa nyaman, mereka menganggapku bukan sebagai orang asing tapi lebih kepada keluarga. Utuh, kulihat ikatan persaudaraannya lebih kuat dari darah yang sama. Jiwa mereka terpanggil tidak hanya tentang mencari atau menjalani hobi namun mereka juga tangguh disetiap kegiatan sosial.

Setiap malamnya mereka duduk bersama berbagi tugas, ada yang menangani bagian pemetaan wilayah, ada yang menjadi guide dalam kegiatan pendakian. Tidak hanya itu, banyak para pejalan dari luar negeri menghubungi mereka untuk ditemani mengelilingi beberapa tempat indah di tanah Aceh ini.

Rupanya mereka tidak hanya menjalani hobi namun melalui hobi mereka mendapatkan rezeki. Sungguh pelik bagiku, apa yang kumiliki? Apa yang aku kuasai? Apa yang bisa aku andalkan? Tidak mungkin juga setiap harinya aku makan gratis di tempat ini.

Tidak mungkin juga aku tinggal di sini tanpa memulai apa-apa untuk hidupku. Meskipun bang Surya dan Bang Dian tidak keberatan dengan semua itu dan bahkan mereka benar-benar memperlakukanku seperti adiknya.

Menghabiskan waktu dengan membaca buku, tepatnya aku telah terhipnotis oleh tulisan-tulisan Seniman Bisu. Sudah 2 minggu lebih aku di tempat ini, tak ada apapun yang bisa aku kerjakan. Aku harus berani melangkah, aku harus berjalan, aku harus menatap banyak kehidupan.

Demikianlah kakiku harus bertahan, hidupku harusnya ada manfaat untuk lingkungan. Aku coba menulis, atas apa yang kubaca dan kudengar. Barangkali tulisanku nantinya akan membawa satu kebaikan untuk diriku maupun lingkungan. Dengan pena, imajiku menjelma kata lalu menjarah lahan putih tak berdosa.


NELANGSA

Mencari sepasang udara
Yang pada duduknya dapat ku ajak bercengkrama
Menukik setiap terjalnya perjalanan
Melawan batas dari sebatas menatap harapan

Carrier yang berisi segala luka
Kubawa dalam peluh setapak pendakian
Melirik alang-alang menuju pusara pintu rimba
Adakah kesendirianku adalah bayang-bayang nestapa

Bagaimana jika rasanya ditinggalkan sedang kita tengah begitu hebat mencintainya
Bagaimana jika air mata tak lagi bersuara sedang hati telah sesak oleh segala tanya
Mengapa?
Tegakah?
Haruskah?
Bukankah dulu saya dan kamu begitu teguh pada kata "Kita"?
Bukankah dulu segala upaya kita lewati bersama?
Tiada tangis dimasa itu
Tiada sedih yang lengkap atau hinggap di berandaku

Hari ini,

Teganya hatimu telah merasuk lalu merusak pada segala yang saya dan kamu cita
Mengapa?
Tegakah?
Haruskah?
Segala tanya menjadi keringat dari setiap tetes nelangsa
Melengkapi lelahku dalam tatapan buta

Pada kesendirian,

Semesta bertemankan alam, tempatku ruah tumpahkan segala kesedihan
Sehingga tak satu rumput pun kan tahu

Pada perjalanan yang telah kumulai
Mendaki sepi hingga senja tertutup oleh celah-celah daun tua
Diantara jendela malam, ditengah perjalanan pendakian
Aku ingin berteriak melepaskan sakitnya rasa
Namun takkan ada guna, kau pun takkan tahu seberapa berat hari-hari harus kulewati tanpamu

Kata-Kata Sang Perempuan

Ketika aku diletakkan pada pilihan yang sulit
Ketika aku diposisikan untuk memilih
Diantara dua mata orang tuaku
Dititpkan permohonan atas janjinya dulu

Ketika aku dilibatkan dalam cerita yang mereka tuliskan
Ketika aku dijadikan isi dari sebuah perjanjian
Dalihnya mempererat tali persaudaraan
Mengukuhkan hubungan yang berjauhan

Aku tidak bisa memilih,

Antara kamu orang yang ku sayang dengan dua orang yang karenanya telah hadirku kedunia ini

Aku begitu sedih, aku begitu rapuh, begitu hancur
Dalam kesedihan yang tak dapat kubicarakan

Mungkin di matamu, akulah yang menghancurkan segala cita kita
Akulah yang telah merusak harapan yang kau jaga
Mungkin di matamu, aku yang terburuk, yang datang merusak impian indahmu

Aku tak bisa, takkan bisa, takkan pernah bisa
Saat hadirmu membawaku pada kebahagian
Saat hadirmu mendekatkanku pada Maha Yang Menciptakan
Saat hadirmu, kau ajak aku dalam kekusyukan
Ketika menghadapNya kau ajarkan aku mensyukuri segala kehidupan

Aku tak bisa, takkan bisa, takkan pernah bisa
Melupakan senyummu saat kau ajak aku melangkahkan kaki di pelataran rumahNya
Saat lisanmu melafazh azan
dan aku yang terkesima dengan kerendahan hatimu

Kau mengajarkanku tentang mencintai hidup
Ketika tanganmu menghapus pilu kesedihan
Yang jatuh pada wajah-wajah lusuh di jalanan

Apa aku bisa?
Jangan hakimi aku, seakan telah memberikan kejahatan dalam hidupmu
Aku hanya sedang memenuhi jalanku
Jalan menuju surga pada ibu dan ayahku
Meski kita tidak ditakdirkan untuk bersama
Aku hanya ingin kau tetap di jalanNya
Mencari ridha dalam hidup ini

Aku tahu, kamu adalah lelaki tangguh

dan hatimu takkan goyah dengan kepergianku...

Dilanjutkan Pada Perasaanya Sang Laki-Laki

Aku kembali mendaki, membangun tenda dan terlelap oleh dinginnya perasaan kecewa
Berharap pada pagi dapat menawarkan seteguk tawa
Dari nafas lelah di atas puncak nelangsa
Menitipkan kesedihan yang terbawa pasang surut awan dibawah langit jingga
Pada pagi buta

Di tempat yang tak pernah ada sesal
Di tempat saya melihat dunia
Di atas gunung dengan kaki yang terbata-bata
Akan kulepas kecewa dan teguhku menghidupkan semilir rasa pada sepasang udara
Yang telah sudi mendengarkan duka
Hingga cengkramanya membuatku lupa
bahwa saya telah kau beri luka
Karena sambutan alam, saya tahu dunia tidak tentangmu saja...

RANDA TAPAK

 

TETAP SAJA PENGKHIANATAN ITU TERJADI

Aku tidak perlu lagi meminta maaf bukan?

Aku juga tidak ingin memperdebatkan lagi perihal siapa yang benar

Cukup saja air mataku yang menetes perlahan

Tanpa ada suara yang berteriak karena kemarahan

Aku sudah terlalu lelah dengan keadaan

Kau yang berpaling dariku

Kau yang memilih menodai kasih

Kau yang berjalan dengannya

Semestinya aku yang kecewa

Harusnya aku yang marah

Lantas kau yang berkata kecewa

Kaulah yang mengkhianati kita

Tapi kau masih sanggup berkata "aku yang salah"

Aku yang tidak perhatian denganmu

Aku yang sibuk dengan duniaku

Dengan sederhananya kau buat kesimpulan

Pernahkah kau bertanya?

Mengapa aku tidak perhatian?

Apa yang sedang kukerjakan sehingga aku terlalu sibuk di matamu? Pernahkah kau tahu bagaimana beratnya duniaku?

Ah, aku tak ingin memperdebatkannya

Karena tetap saja aku yang salah

Aku masih saja memegang kesetiaan

Tak pernah mengkhianati perasaan dengan hati lainnya

Namun kau sendiri yang mempermainkan hatiku

Lantas takkah itu sebuah kesalahan menurutmu?

Masih saja berani kau berkata "ini semua salahku"

Aku yang tidak perhatian, katamu

Bukankah dari pertama kau mengenalku

Aku adalah pribadi yang seperti itu

Aku yang tidak suka bermain perasaan dengan siapapun

Karena untukku kamulah satu-satunya yang menjadi masa depan

Namun tetap saja pengkhianatan itu terjadi

dan katamu, ini semua salahku

Sikapmu yang marah dan kecewa atasku

Bukankah harusnya aku

Aku yang sepatutnya bersikap seperti itu

Cukup, aku tak ingin ada perdebatan lagi

Karena apapun yang kukata, tetap saja aku yang salah

Sebab kau adalah makhluk yang tidak pernah salah

Harusnya aku

Aku yang merasakan sakit, kecewa dan marah...

RANDA TAPAK

 

JIKA DULUNYA KAMU

Jika dulunya kamu sebagai inspirasi untuk puisi-puisiku

Jika dulunya kamu adalah rasa manis pada kopi pahitku

Jika dulunya kamu adalah angan-angan dalam imajiku

Sekarang ini kamu adalah nafas untuk setiap puisi-puisiku

Sekarang ini kamu adalah teman ngopiku

Sekarang ini kamu adalah hal nyata dihidupku

Betapa tidaknya kesempurnaan rasa melekat disetiap rinai waktu

Setiap detik senyum dan tawamu melengkapi ruang hatiku

Karena cinta adalah perasaan yang telah ada

semenjak aku pertama kalinya melihat senyummu...

RANDA TAPAK


Tajam mengiris hati, menyisakan luka, kuat dengan perasaan seperti sebuah pengalaman pribadi. Suara Bang Dian mengomentari tulisanku. Aku tak menyadarinya, ternyata Bang Dian lumayan lama berdiri di belakangku sambil membaca apa yang sedang kutulis. Aku duduk di bawah pohon kelapa dengan tikar dari rumput hijau.

Sudah berapa lama Bang Dian di belakangku?
“Lumayan lama, tadi Bang Surya menanyakanmu. Abang cari kamu di dalam tidak ada. Abang lihat kamu sedang duduk di sini, serius kali abang perhatikan. Jadinya abang penasaran makanya pelan-pelan berjalan agar bisa lihat apa yang sedang kau tulis”.

Entah bang, kalimat-kalimat itu mengalir begitu saja dan jari-jariku bergerak sendiri menulisnya. Aku hanya membayangkan kisah-kisah yang kubaca dari novel-novel di rak buku. Abang kan tahu sendiri, semenjak di sini setiap saat aku tidak lepas dari buku. Aku hanya suka membaca dan kupikir tanpa menulis semuanya akan hilang, perasaan sedih, kecewa, bahagia dan menurutku hal itu harus diabadikan dalam tulisan.

“Tidak semua orang bisa sepertimu, sadar atau tidak kau memiliki keahlian disitu. Teruslah menulis dan jangan berhenti, jika tulisan-tulisanmu telah banyak nantinya akan menjadi penghasilan untukmu”.

Aaah abang terlalu berlebihan mengatakan ini sebuah keahlian. Masak iya menulis hal-hal menyedihkan seperti ini menjadi sebuah keahlian? Terus bagaimana caranya menulis bisa mendapatkan penghasilan?

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah
Menulis adalah bekerja untuk keabadian" itulah kata-kata Pramoedya Ananta Toer. “Tidak semua orang bisa menulis sepertimu, yang bisa menulis sepertimu adalah dirimu sendiri.

Mengapa? Karena gaya bahasa dan imaji setiap orang itu berbeda. Untuk soal pendapatan, kebetulan abang ada kawan yang kelola website yang memuat tulisan-tulisan seperti gaya tulisanmu. Nanti tulisanmu kita kirimkan kepada dia dan jika banyak pengunjung yang membaca tulisanmu pastinya juga akan banyak penghasilan yang kau dapat.

Sekarang tulislah apapun yang sedang kau rasakan biar nanti abang bawa tulisan-tulisanmu kekawannya abang. Oh iya untuk menambah pembendahaaran kata, sama abang ada satu novel tentang kisah cinta. Setelah abang beberapa kali membaca novel itu, kesannya buat abang seperti membaca kisah nyata.

Ada ketulusan yang mengalir dalam perasaan, ada kesabaran yang menyebar dalam ruangan dan ada keteguhan hati yang kuat dari seorang laki-laki. Nanti sore abang bawa novel itu untukmu dan mudah-mudahan bisa jadi referensi untuk tulisan-tulisanmu”.

<<< Halaman 1                         Lanjut Baca KLIK >>> Halaman 8


(Catatan Penting)

Filosofi Randa Tapak merupakan Novel Karya Muraz Riksi yang terdiri dari 2 bagian diantaranya "Bagian 1 Lembah Telaga Mane dan Bagian 2 Negeri Antara".

Dalam hal ini admin menekankan bahwa sumber tulisan dan hak cipta sepenuhnya milik penulis. Selamat membaca!.

Profil singkat penulis :
- Instagram Muraz Riksi
- Youtube Indie Official Poem Muraz Riksi


Terima kasih telah berkunjung ke website Sampah Kata.
Salam kopi pahit...

Seniman Bisu
Penulis Amatiran Dari Pinggiran
Secarik Ocehan Basi Tak Lebih Dari Basa-Basi

Post a Comment for "Cerbung Filosofi Randa Tapak "Menulis dan Perjalanan" Halaman 7 Karya Muraz Riksi "