Cerbung Filosofi Randa Tapak "Negeri Antara" Halaman 10 Karya Muraz Riksi - SAMPAH KATA
https://www.idblanter.com/search/label/Template
https://www.idblanter.com
BLANTERORBITv101

Cerbung Filosofi Randa Tapak "Negeri Antara" Halaman 10 Karya Muraz Riksi

Friday, 2 April 2021

 


HALAMAN 10

Tibaku di rumah Pak Isman, keluarganya menyambutku dengan ramah. Dua anak laki-lakinya yang masih kecil. Istri Pak Isman tidak hanya terlihat sebagai sosok ibu namun caranya menyambut suaminya pulang begitu mulia. Di depan pintu, ia tersenyum saat melihat suaminya telah pulang. Wajah yang tersenyum itu tidak hanya menggambarkan perasaan bahagia tapi terlihat juga perasaan rindu. Demikiankah yang dinamakan cinta sebuah keluarga?

Siluet-siluet kebahagian itu pertama kali aku lihat di kehidupanku ini. Selama ini aku hanya membacanya di novel-novel. Terkadang saat aku melihat kebahagian yang sedang terjadi di depan mataku menjadi jarum kesedihan untukku. Mengingat aku hanya sebatang kara.

Segelas kopi robusta dengan bubuknya di dasar gelas. Aromanya begitu kuat, merasuk tajam dalam hidungku. Bukan sebagai penenang namun aroma dan rasanya mampu menenangkan jiwa sepi sepertiku. Istri Pak Isman menghidangkan kopi itu kepadaku. Dengan wajah cengar-cengir, aku meminta izin kepada Pak Isman dan istrinya untuk duduk di teras belakang rumah sembari menikmati sisa-sisa senja.

Tidak diantara kita yang hidupnya sempurna, tidak ada diantara kita yang hidupnya serupa, tidak pula harus seperti yang kita rencanakan. Karena kita tahu bahwa qadar adalah garis yang pasti tidak satu orang pun dapat mengubahnya. Ia serupa takdir dari Sang Pemilik Semesta. Adakah manusia yang dapat membolak-balikkannya?

Nasib, mungkin saja dapat diubah tergantung dengan proses dan ketekunan dalam berusaha. Yang takkan dapat mengubah nasibnya adalah proses yang jalannya adalah protes. Ia bisanya protes atas hidup yang tidak sempurna, protes atas musibah yang menghampirinya, protes atas takdir yang tidak sesuai keinginannya. Itulah proses yang takkan pernah bisa mengubah nasib.

Lantas diam saja juga bagian dari proses. Maka bertindak adalah proses yang tepat untuk mengubah hal yang tidak tepat. Demikianlah kebenarannya namun ada kebenaran lain yang sedang terjadi, katanya tidak sempat. Seringkali kita menunggu waktu yang tepat sebagai kesempatan yang baik.

Padahal kita lupa bahwa kesempatan yang baik adalah memulai proses tanpa memikirkan mana waktu yang tepat. Sebab kita tidak dapat menerkanya. Maka proses itu harus berjalan diantara waktu, artinya dalam ruang semu dan panjang itu akan ada kesempatan yang tepat.

Hari ini, demikianlah prosesku menemukan alasan tentang kehidupanku. Negeri Antara merupakan satu Gampong di Kecamatan Pintu Rime Gayo Kabupaten Bener Meriah. Apa yang menarikku ketempat ini, alasan pertama adalah gajah, yang kedua adalah bahasa. Sebagai bagian dari Aceh, gayo adalah salah satu suku di Aceh yang memiliki kekayaan budaya.

Semesta yang masih menyimpan banyak keindahan yang belum sepenuhnya dijarah kerusakan. Malam ini raga dan jiwaku ada di atas tanahnya Negeri Antara, yang melengkapi kekosongan dari hati yang kesepian. Pak Isman adalah jendela awal dari sebuah perjalanan...

Apa dengan mereka? Mengapa hidupnya diprioritaskan pada dunia. Apa alasan mengubah tatanan hutan menjadi perkebunan? Mengapa satwa liar seakan penghuni yang harus keluar dari lingkungannya? Lalu anehnya lagi berita-berita tentang satwa langka, satwa yang dilindungi semakin berkurang. Semacam kampanye kesedihan diumbar namun kejadian serupa tetap dilakukan.

Apakah ada golongan yang membedakan? Semisal para pejuang lingkungan dengan penjarah hutan. Dalam renungku seorang diri, saat berita gajah liar masuk pemukiman. Ada rumah yang dihancurkan kawanan gajah, ada pemukiman penduduk menjadi lintasannya gajah. Bukan mereka yang tinggal di sana, mereka keduanya menjadi korban.

Gajah-gajah itu bukan sedang dendam atau bentuk protesnya dengan memasuki pemukiman. Kukira mereka hanya kekurangan ruang untuk hidupnya. Persoalan utamanya dalam analogika konyolku, aku punya sepuluh saudara. Ayah dan ibu diam atas perlakuan kakakku merusak hutan, melakukan penebangan liar. Lalu empat orang kakakku yang lain cuma bekerja karena perintah kakak yang paling tua.

Unjuk protes dilakukan oleh 2 orang kakakku lainnya, 2 orang lagi sibuk merilis berita. Sedang aku diam dan tidak bisa berbuat apa-apa, mau protes status hanya anak bungsu. Melihat ayah dan ibu yang sebenarnya tahu apa yang dilakukan oleh kakak sulung adalah salah, ditambah lagi ayah dan ibu membiarkan empat kakak lainnya bekerja sebagai buruh untuk kakak sulung.

Komplek sebuah drama dalam keluargaku berjalan seakan hal yang nyata, artinya ini bukan drama kolosal karena jelas-jelasnya adalah realita. Peliknya lagi, peranku hanya penonton dan kapasitasku tak lebih dari rasa pasrah atau aku juga salah atas tindak-tanduk kakak-kakakku. Rumit bukan? Meskipun kesannya drama kolosal tapi keluargaku sudah lama dengan perannya masing-masing.

Kiraku yang bodoh ini, apa yang mau dikejar. Hidup berlimpahan harta tapi lingkungan tidak lagi nyaman, udara semakin panas, hutan terus dijarah, satwa seiring waktu pelan-pelan musnah atau hidup seadanya namun hutan masih lebat seyogyanya. Satwa tidak langka, mereka tersebar dimana-mana.

Lalu gajah pun tak perlu masuk jalur pemukiman warga. Kita punya ruang masing-masing dan kita juga bebas dari kejaran kartu kredit atau tagihan listrik. Iya tagihan listrik, kau kira listrik itu mengalir sendiri kesetiap rumah?

Tidak, listrik ada karena ada zat dari bumi yang diambil. Minyak bumi sebagai salah satu bahan bakar yang digunakan untuk membangkitkan listrik menggunakan mesin penghasil karbon dioksida. 

Setelah jejak hayalku, pemikiran bodohku menemani malam pertamaku di Negeri Antara. Tepatnya di rumah Pak Isman menjadi rumah pertamaku bermimpi di Negeri Antara. Hingga kantuk mengusiknya dan malam larut tenggelam oleh tidur lelahku.

Cuacanya mendung, udara yang sejuk dan asrinya alam menghipnotisku untuk berlama-lama berdiri di belakang rumahnya Pak Isman. Pohon-pohon cemara sedang menari riang. Sesekali terdengar burung-burung berkicauan.

Tatapku di bawah atap langit pagi, semesta belum berhenti berotasi. Lantas mengapa kita harus berhenti melangkah? Hanya karena hidup belum sepenuhnya terarah. Bukankah sebaiknya kita mencari jalan, dimana setiap pijakan adalah cerita yang harus diuraikan.

Kembali pada secangkir kopi dengan musik kecil, sebuah buku catatan dan kisah klasik kutuliskan. Kenangan, segelintir orang menganggapnya sebagai sampah yang harus dilupakan. Mungkin terlalu pahit atau ampasnya terlalu tawar untuk disimpan.

Bagaimanapun kenangan itu tidak hanya untuk dikenang namun ada cerita yang semestinya tetap diingat. Memori tentang seseorang, tentang sosok ayah atau ibu dan bisa jadi memori indah yang terkelupas seiring waktu.

Seseorang itu sebelumnya adalah topeng, kita hanya mengenal baiknya, pesonanya namun saat kita telah searah dan telah hidup sejalan maka pelan-pelan aslinya akan bermunculan. Setiap orang selalu memenangkan egonya, entah itu sesuatu hal yang harus dipertaruhkan ataukah ego itu memiliki terjemahan sebagai kuasanya seseorang.

Banyak paradigma yang berdebat, mempertahankan argumentasi masing-masing. Menilai dengan sudut pandang sendiri lalu menyudutkan siapapun dan apapun yang menghalangi. Tujuannya satu memenangkan ego sendiri, karena ego itu menggambarkan kuasanya seseorang.

Di negeri ini tidak butuh orang cerdas, pentingnya kualitas dalam segi mayoritas. Artinya jika kau menjadi seseorang maka ada peran yang harus kau pilih. Pertama menjadi pendukung seseorang yang memiliki jabatan atau kau sendiri yang harus menjabat pada satu kekuasaan agar kau memiliki pendukung sendiri yang siap meramaikan. Jika tidak di dua peran itu, maka kau akan menjadi manusia yang hidup sendiri, tepatnya tidak akan memiliki relasi.

Analogikanya kau seseorang yang tidak memiliki relasi dan tidak memiliki kuasa sebagai salah satu dari para petinggi maka dalam hal pengurusan administrasi tentunya harus mengikuti aturan mengantri. Lantas sebaliknya maka berkasmu bisa masuk lewat pintu depan tanpa harus mengantri.

Randaaa!
Seru panggilan itu membuyarkan konsentrasiku menulis. Pak Isman datang menghampiriku. "Bapak mau ke kebun kopi, kau mau ikot?"

"Tidak Pak, Randa duduk di rumah saja".
Kembali kubuka buku catatan, tanpa judul aku telah menuliskan bentuk pemikiran. Yang kutulis tadi semuanya adalah sampah kata. Sebagai coretan yang menyeberangkan pemikiran dan hayalan menjadi kalimat tanpa awalan atau akhiran. Tanpa penutup, tulisanku berakhir begitu saja.

Negeri ini bukan negeri dongeng yang barangkali hayalan itu adalah kenyataan. Negeri ini nyata, setiap hal yang kau inginkan belum tentu ada kecuali kau berusaha mewujudkannya.

Semestinya negeri ini mengajarkan kita tentang bertahan dari setiap hinaan karena kegagalan. Bukankah setiap kita dihadapkan pada permasalahan? Semuanya sesuai dengan kesanggupan kita dalam melewatinya.

Sayangnya banyak beranggapan bahwa masalah yang mereka lalui lebih sulit dan berat dari masalahnya orang lain. Bahkan mereka memilih berputus asa. Pilihan itu pun dalam keadaan sadar namun mereka tidak menyadarinya jika itu pilihan yang salah.

Beratapkan langit Negeri Antara, masihku di rumahnya Pak Isman. Beranjakku dari tempat duduk di teras belakang, cangkir kopi yang telah kosong dan keputusanku menjelajahi kampung ini. Terlihat dari jauh sebuah puncak dengan awan yang menutupinya. Ibaratnya hijab seorang perempuan, kudengar wajahnya amat cantik. Ia sendiri di jaga oleh Gunung Geureudong. Tak salah lagi, itu dia Puncak Burni Telong. Gunung api yang sedang diam bersemedi, mungkin suatu hari ia akan bangun dari semedi panjangnya.

Burni Telong memiliki ketinggian 2624 Mdpl yang terletak pada koordinat 4 derajat 38’47”- 4 derajat 88’32” LU dan 96 derajat 44’42”- 96 derajat 55’03” BT. Gunung api ini terletak di Kabupaten Bener Meriah yang merupakan gunung api termuda yang terdapat di dalam suatu komplek gunung api tua yang terdiri dari Gunung Salah Nama, Gunung Geureudong dan Gunung Pepanyi.

Burni Telong yang dalam bahasa Indonesia diartikan dengan gunung yang terbakar sedangkan masyarakat setempat menyebutnya dengan Burni Cempege yang dalam bahasa Gayo mempunyai arti gunung yang penuh belerang. Gunung api termuda ini pernah meletus pada tanggal 07 Desember 1924. Burni Telong termasuk dalam tiga gunung berapi yang bertipe A atau aktif, yaitu gunung Seulawah Agam di kabupaten Aceh Besar, Gunung Peut Sagoe  di kabupaten Pidie, dan gunung Burni Telong di Bener Meriah.

Jari tanganku cepat, seketika melihat wajah Burni Telong maka seketika itulah aku mencari informasi tentangnya. "Kau sedang apa disini?" Tanya Pak Isman. Sedang melihat kecantikan Burni Telong Pak. "Ayo kita pulang" ajak Pak Isman dengan garis tipis yang melengkung di atas dagunya.

Atap negeri di Negeri Antara adalah langit yang sama di tempat kamu sedang berpijak. Hanya saja kau dan aku masih terlalu jauh bahkan kita belum saling mengenal. Sang Pencipta masih merahasiakannya atau aku yang belum siap untuk mengatakan sesuatu kepadamu ketika kita telah saling bertemu. Seperti halnya yang paling berat bagiku adalah rindu. Ketahuilah bahwa hal yang harus kulakukan saat ini adalah menemukanmu. 

Tepatnya pada meja diskusi, nostalgia Pak Isman membuatku terharu. Sungguh saat ia menceritakan ketika pertama kali bertemu dengan istrinya. Hal lain yang membuatku menjatuhkan air mata adalah detik-detik menunggu kelahiran anak pertamanya. Begini cerita singkatnya :

"Setelah subuh berganti kepada jingga, suaranya mulai memanggil namaku. Terlihat jika seorang bayi mungil akan hadir diantara kami. Berangkat kami menembus ruang yang masih gelap, udara yang begitu sejuk dan tentunya dengan perasaan yang berdebar-debar. Bahagia, terlalu sulit kata ini untuk diterjemahkan sebagai perasaan. Merangkainya saja begitu berat apalagi menggambarkan perasaan bahagia menjadi sederet kalimat atau sebuah deskripsi singkat. Setelah menempuh perjalanan lebih kurang sekitar 9 KM, seorang Bidan sudah menunggu di teras depan kliniknya. Bayi mungil, menjadi seorang ayah, istriku akan menjadi seorang ibu adalah tiga hal yang paling penting dalam hidupku. 

Air mata bahagia yang menetes merupakan ungkapan dari perasaan itu sendiri. Setelah mendengar kabar bahwa masih lama, debar-debar hati berkurang. Menunggu adalah proses yang harus dilewati. Hari kian senja, berlalu kepada malam kemudian berganti menjadi pagi. Empat hari tiga malam masih dalam waktu menunggu hingga keesokannya diantara siang menjelang petang, suara tangis bayi mungil terdengar olehku. Pertama melihat wajahnya tersirat dalam hati, anaknya ayah.

Bahagia tentu perasaan yang teramat indah. Kulihat istriku terbaring lemah. Aku sadar, ada perjuangan yang sangat berat telah dilaluinya. Menjadi seorang ibu tidak hanya tentang kodrat namun setiap tetes keringatnya saat melahirkan adalah ketulusan yang sangat hebat. Mungkin jika itu diposisikan pada seorang ayah, maka dapat dipastikan hal itu tidak akan pernah terjadi. Demikianlah Rasullullah berkata bahwa tiga kali menghormati ibumu dan barulah ayahmu. 

Pulang kami dari klinik, istriku sedang menggendong anak kami. Sesekali tangisan anakku terdengar seperti lagu sendu di bawah langit biru. Setiap harinya tangisan mungil itu mengisi rumah kecil kami. Rasanya telah sempurna hidupku. Bahwa menjadi seorang ayah adalah impiannya setiap laki-laki". 

"Randa kelak kau pun akan merasakan hal yang sama dengan bapak".

Tertawa kecilku membuat Pak Isman mengerut dahinya.
"Aku belum memikirkan sejauh itu Pak. Apalagi berbicara tentang anak atau berumah tangga, kekasih saja aku tidak punya. Jika pun ada, aku akan tinggal dimana? Siapa nanti yang akan mendampingiku saat akad nikah nanti atau siapa keluargaku yang akan menjadi wali".

Ada apa dengan kehidupan ini, kenapa banyak manusia menceritakan masalahnya di tempat yang tidak seharusnya. Apakah itu semacam penenang, ketika sebagian memberikan pendapatnya laksana kata-kata motivasi.

Padahal di belakangnya kebenaran lebih pahit, caci maki dan hujat-menghujat pun terjadi. Bagaimana tidak, mereka tahu seseorang yang mereka kenal sedang ada masalah lalu mereka menyimpulkan masalah itu sesuka hati. Haruskah mengatakan kepada dunia bahwa kita sedang ada masalah?

Demikianlah yang terjadi, banyak diantara kita memenangkan ego diri. Mementingkan mencari dukungan atas pemikiran diri. Padahal kata maaf dan renungan itu hal yang jauh lebih baik, kita dapat memperbaiki kesalahan diri dan mengurangi konflik batin. Sayangnya pemikiran yang demikian tidak berguna lagi. Mencari kesalahan satu sama lain seakan hal yang jauh lebih penting daripada merencanakan kembali kebahagiaan yang sedikit tergores karena kesalahpahaman.

"Malaikat tak pernah salah. Setan tak pernah benar. Manusia bisa benar, bisa salah. Maka kita dianjurkan saling mengingatkan, bukan saling menyalahkan". Kata-kata Gus Mus itu tidak hanya tepat tapi suatu kebenaran yang harus selalu diingat. Kita manusia yang terlahir dalam keadaan suci, lalu keadaan dan masa yang mengubah kita menjadi ternoda oleh ego, benci dan merasa paling benar diri. 

Adakah salah merenung diri? Mencari kesalahan diri sebagai kekurangan yang harus diperbaiki? 

Kita lebih sering mencari kesalahan orang ketimbang merenung kesalahan diri. Ahli hikmah berkata, "Ingatlah olehmu dua per­kara, yaitu kesalahanmu pada orang lain dan kebaikan orang padamu. Dan lupakan pula dua perkara, yaitu kebaikanmu pada orang lain dan kesalahan orang lain pada dirimu."

Nilai seseorang bukanlah dilihat dari penampilan dirinya, bukan pula dari harta benda yang dikumpul­kannya. Apalagi dinilai dari jabatan yang di dudukinya, bukan pula dari pangkat dan tanda jasa yang disematkan di dadanya, tetapi seseorang dinilai dari budi pekerti luhur yang menghiasi dirinya.

Pertama, mengingat kesalahan yang telah dilakukan pada orang lain. Orang yang  memiliki kesadaran tinggi terhadap kesalahan dan kekhilafan yang pernah dilakukan maka akan muncul dalam dirinya rasa penyesalan. Penyesalan ini akan mendorongnya untuk memperbaiki diri, keadaan ini disebut dengan meminta maaf.

Kedua, mengingat kebaikan orang terhadap dirinya. Dalam kehidupan kita memerlukan kehadiran orang lain, kebu­tuhan akan masyarakat dan lingku­ngan merupakan suatu kemestian. Pada dasar­nya kehidupan ini sangat bergantung ke­pa­da orang lain. Letak keba­hagian hakiki adalah dengan membahagiakan orang lain. Rasulullah saw bersabda,"Tidak sempurna iman seseorang sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri" (HR Bukhari-Muslim).

Ketiga, melupakan kebaikan yang telah dilakukan kepada orang lain. Setiap kebaikan yang kita kerjakan hendaknya didasari keikhlasan, yaitu semata-mata mengharapkan keridhaan Allah. Kebai­kan tidak ada nilainya kalau diiringi dengan menyebut-nyebutnya. Firman Allah, “Wahai orang-orang yang beri­man, janganlah kamu hilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebut dan menyakiti (perasan penerimanya) (QS Al-Baqarah : 264)

Keempat, melupakan kesalahan orang lain. yang dimaksud dengan  kesalahan orang lain adalah membuka pintu  maaf atas kesalahan yang telah di lakukan orang lain. 

“Hidup itu seperti penjaga gawang. Tak peduli seberapa kali penyelamatan tercipta karena orang hanya ingat saat gol tercipta”.

Perumpamaan hidup ini memang seperti halnya penjaga gawang dalam permainan sepak bola tak peduli seberapa banyak dia melakukan penyelamatan cemerlang, orang-orang hanya akan mengingat kesalahan yang dia buat dengan terciptanya gol di gawangnya. Artinya kebanyakan orang hanya akan mengingat kesalahan yang orang lain lakukan, tanpa melihat kebaikan yang dilakukan orang tersebut sebelum melakukan kesalahan.

Jangan menjadi benar dengan melihat banyak orang membenarkan. Jangan menganggap salah saat sedikit yang mengatakan benar. Namun lihatlah pada hakikatnya, meski sedikit orang memahaminya. Jika mutlak itu benar maka itulah kebenarannya. 

Hanya orang asing, mungkin dunia atau manusianya telah membenarkan bahwa emosi adalah hal yang wajib diekspresikan. Salah satunya dengan menutupi diri dari orang yang paling dekat. Padahal cara paling baik adalah saling bicara, menyampaikan semua keluh kesah perasaan. Saling menyampaikan hal baik, tentunya akan melahirkan kebaikan pula.

Bagaimana rasanya menjadi orang asing padahal kau mencintainya melebihi dirimu?

Bagaimana rasanya diasingkan oleh orang yang teramat kau sayang?
Begitu mengetahuinya, kau ada dibarisan ketiga dari orang asing. Sungguh perih sayatan itu mengiris hati. Layaknya pisau kecil mengiris badan lalu ditaburkan garam pada lukanya.

Meremehkan hal-hal kecil membuat orang melupakan bahwa dari hal kecil akan ada dampak yang besar. Akan aku analogikan, semisal sebatang bibit pohon mangga dengan akarnya terjatuh di jalan lalu kau mengambilnya dan menanam di suatu tempat maka 5 tahun kemudian bibit itu telah menjadi pohon yang siap berbuah.

Bukankah contoh di atas adalah tindakan kecil? Namun dampaknya begitu besar. Analogika berikutnya, letakkan satu ember air lalu tuangkan satu sendok bubuk kopi. Apakah air itu masih jernih

Demikianlah hal kecil akan merusak banyak hal termasuk sesuatu yang lebih besar darinya.

Hanya orang asing, pelan-pelan disiksa perlahan. Dibiarkan air matanya kering. Ketahuilah bahwa air mata itu telah kering, takkan tumpah lagi. Hati dan perasaannya telah terbiasa dengan siksa, dibiarkan sayatan itu melukai tubuh.

Demikianlah cinta, mencintai orang yang tidak mencintaimu ibaratkan bahagia yang dibalut luka. Ah sudahlah, aku hanya manusia sebatang kara. Meski ayah menamaiku Randa Tapak namun aku tidak setegar Randa Tapak yang tumbuh di alam sana. Aku memiliki perasaan yang mudah terluka. Semoga ketika mencintai adalah jalan hidup maka jangan pernah lukai hati dan perasaannya...

<<< Halaman 1                       Lanjut Baca KLIK >>> Halaman 11


(Catatan Penting)

Filosofi Randa Tapak merupakan Novel Karya Muraz Riksi yang terdiri dari 2 bagian diantaranya "Bagian 1 Lembah Telaga Mane dan Bagian 2 Negeri Antara".

Dalam hal ini admin menekankan bahwa sumber tulisan dan hak cipta sepenuhnya milik penulis. Selamat membaca!.

Profil singkat penulis :
- Instagram Muraz Riksi
- Youtube Indie Official Poem Muraz Riksi


Terima kasih telah berkunjung ke website Sampah Kata.
Salam kopi pahit...

Seniman Bisu
Penulis Amatiran Dari Pinggiran
Secarik Ocehan Basi Tak Lebih Dari Basa-Basi


Sampah Kata

Seniman Bisu