Cerbung "Miskin Setelah Bercerai" Oleh Mimi Hayati - SAMPAH KATA
https://www.idblanter.com/search/label/Template
https://www.idblanter.com
BLANTERORBITv101

Cerbung "Miskin Setelah Bercerai" Oleh Mimi Hayati

Friday, 2 July 2021

Baca Juga

 

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salam kopi pahit...
Cerbung merupakan cerita bersambung yang mengisahkan tentang cinta dan kehidupan. Oleh karenanya pada postingan ini, admin ingin membagikan Cerbung karya Mimi Hayati

Miskin Setelah Bercerai adalah tema besar dari karyanya Mimi Hayati dan cerbung ini sangat asyik dibaca sambil rebahan. Namun cerbung ini dikhususkan untuk usia 18 + atau untuk orang-orang yang telah beranjak dewasa.

Dalam hal ini admin menekankan bahwa sumber tulisan dan hak cipta sepenuhnya milik penulis. Selamat membaca!.

Profil singkat penulis :
- Facebook Mimi Hayati
Instagram Mimi Hayati


Miskin Setelah Bercerai

Part 1

Gubahan : Mimi Hayati


"Kamu yakin ini tempatnya?" Tanya ku ketika mobil kami memasuki kawasan hotel.


"Iya, aku yakin. Ini undangannya, dan hotel Fajar ini betul tempatnya," jawab Rama memastikan.


Hotel ini adalah hotel bintang lima, dan ini adalah kali pertama aku menginjakkan kakiku disini. Bukan tanpa alasan aku kemari, aku ingin menyaksikan langsung pernikahan suamiku atau lebih tepatnya calon mantan suami dengan wanita pilihan ibunya.


Ibunya mas Robi memang tidak menyetujui pernikahan kami. Ditambah lagi hampir tiga tahun pernikahan aku belum bisa memberikan beliau cucu. Aku dan mas Robi sudah berobat kemana-mana, dari berobat medis sampai dukun. Semuanya menjelaskan jika kami tidak memiliki masalah, hanya saja Allah belum memberikan amanahnya kepada kami.


Setelah menunjukkan undangan pada penjaga, kami diperbolehkan masuk. Tepat saat aku memasuki aula tempat berlangsungnya resepsi pernikahan, aku melihat semuanya begitu mewah. Berbanding terbalik ketika tiga tahun lalu dia menikahi ku. Kami menikah hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan beberapa kerabat lainnya.


Kami menikah atas dasar cinta, hanya saja saat itu ekonomi kami masih jauh dari yang kami rasakan sekarang. Dulu mas Robi suamiku cuma bekerja sebagai karyawan kantoran yang gajinya hanya satu juta perbulan. Setelah menikah kami langsung pindah ke kontrakan, karena aku ingin hidup mandiri. Kontrakan petak dengan satu kamar dan satu ruang keluarga yang merangkap menjadi dapur sebagai saksi manis pahit kehidupan kami.


Setelah setahun menikah, tiba-tiba ibu menelpon akan datang kerumah. Aku pun menyiapkan berbagai macam menu makanan kesukaan ibu, ini kali pertama ibu kesini jadi aku harus buat beliau betah.


Tok tok tok


Setelah menyiapkan semuanya terdengar suara ketukan pintu dan kuyakin itu ibu. Ternyata ibu datang sendiri, ketika aku bertanya kenapa ayah tidak ikut, katanya ayah kurang sehat. Karena ibu datangnya pas waktu makan siang, kami berdua pun langsung makan.


"Suamimu mana Ta?" Tanya ibu


"Mas Robi memang tidak pulang siang Bu, dia biasa bawa bekal dari rumah untuk makan siang. Kalau pulang ke rumah terlalu jauh, sayang bensin," jawabku menjelaskan.


Selesai makan, aku menyuruh ibu untuk istirahat. Tapi ibu menolak karena ingin langsung pulang katanya.


"Jadi ibu kesini ingin ngasih kamu ini," kata ibu sambil menyodorkan amplop berwarna coklat.


"Apa ini Bu?"


"Itu cek, disitu ada uang yang ibu rasa cukup untuk kamu dan suamimu membuka usaha atau perusahaan sendiri"


Jawaban ibu betul-betul membuat aku tercengang. Dari Mana ibu mendapatkan uang sebanyak ini, sedangkan pekerjaan ibu dan ayah hanya petani.


"Ini hasil ibu dan ayah jual tanah, kebetulan tanah kita dibeli dengan harga yang sangat tinggi karena akan digunakan sebagai jalan tol," ibu menjelaskan.


Dan dari situ aku dan mas Robi membuka usaha di bidang kuliner. Aku dan suami sama-sama memiliki hobi memasak, jadi kami berpikir akan cocok memulai suatu usaha yang dibarengi dengan hobi.


"Talita…" Rama menepuk bahuku.


Aku tersentak dari lamunan panjang, rasanya ini seperti mimpi. Aku seakan tak percaya dengan semua ini, mas Robi tega mengkhianati kepercayaan dan pernikahan kami. Aku menengadah ke atas, tak ingin air mata ini jatuh di depan mereka.


**

Disana kulihat pria yang sudah menikahiku selama tiga tahun berdiri berdampingan dengan wanita lain. Mereka begitu bahagia dengan pernikahan mewah ini, sepertinya mereka sudah melakukan ijab kabul tadi. Aku mengambil gawai untuk mengabadikan momen penting ini, setidaknya aku harus memiliki barang bukti jika mas Robi selingkuh.


"Ayo Rama, kita berikan selamat untuk mereka," aku mengamit lengan Rama untuk naik ke atas panggung yang mewah ini.


Saat aku berada di tengah-tengah antrian para tamu yang ingin memberikan selamat kepada pengantin, ibu mas Robi melihatku. Matanya membulat sempurna, aku membalasnya dengan senyuman dan tidak lupa mengarahkan ponsel ke arah ibu untuk mengabadikan momen ini.

Sungguh, keluarga yang tidak tau berterima kasih. Bahkan adiknya mas Robi kuliah di universitas ternama dengan biaya dari kami, aku bahkan membelikan ibu mertua rumah mewah agar mereka nyaman.


Ibu yang shock segera berlari ke atas panggung, aku yakin dia berencana memberitahu mas Robi jika aku ada disini. Tapi sayang, ibu terlambat untuk itu. Aku sudah tepat berada di depan mas Robi dan istri keduanya itu.


"Selamat ya mas, semoga pernikahanmu kali ini bisa sampai kakek nenek," aku memberi selamat kepada mas Robi.

Mata mas Robi melotot seperti ingin keluar dari sarangnya, bahkan tangannya gemetar saat berjabat tangan denganku.


"Talita, aku bisa beri kamu penjelasan kenapa aku menikah lagi," mas Robi gelagapan. Dia bahkan tidak mau melepaskan tangan ku, saat ini semua mata tertuju pada kami. Bahkan ada yang diam-diam memvideokan adegan ini. Istri mas Robi kelihatannya menahan amarah, mukanya yang semula selalu menebarkan senyuman sekarang berganti dengan wajah tegang.


"Kamu tau resikonya kan mas jika ada salah satu dari kita yang selingkuh?" Aku tersenyum penuh kemenangan saat ini. Walaupun hatiku remuk redam tapi aku sangat puas melihat wajah tegang mas Robi dan ibu mertua.


"Apa maksud dari omongan mu itu Talita!" Ibu berdiri tepat disamping anaknya. Dia sepertinya takut jika aku akan memakan anaknya hidup-hidup. Aku tertawa dalam hati melihat tingkah mereka.


"Ibu bisa tanyakan langsung pada anak kesayangan ibu ini," aku tersenyum licik.


"Jawab pertanyaan ibu Robi, apa maksud istrimu ini?" Kini ibu memegang bahu mas Robi dengan sedikit menggoncangkan.


"Aku ga tau Bu, ibu tenang saja. Talita pasti bisa menerima ini, Robi akan menjelaskan pada dia nanti dirumah," mas Robi sepertinya sangat takut jika ibunya tau yang sebenarnya.


"Tidak perlu mas, setelah ini kamu tidak boleh menginjakkan kaki lagi dirumah," aku menyela percakapan mereka. Aku sungguh muak  melihat adegan ini.


"Kamu ga bisa dong mengusir suami kamu dari rumahnya sendiri, walau bagaimanapun Robi sudah susah payah membangun usaha kalian dari nol," ibu memasang badan membela anak lelaki kesayangannya.


"Sudah kukatakan, anakmu akan menjelaskan semuanya," hilang sudah hormatku pada ibu mertua.


"Dasar wanita mandul, giliran suami nikah lagi marah-marah. Makanya ngasih anak dong biar suami betah di rumah," aku mengalihkan pandanganku pada kak Mira. Dia adalah kakak mas Robi, dari dulu dia memang sama dengan ibu. Padahal kami sama-sama wanita, tapi dia samasekali tidak menjaga perasaanku.


"Asal kamu tau ya Talita, Robi akan mempunyai anak dari Nia. Dan semua harta gono-gini akan diwariskan semua pada anaknya," lanjut kak Mira, ternyata nama perempuan itu Nia. Mungkin kali ini aku kalah cepat, tapi setelah ini aku pastikan memberi sedikit pelajaran kepada mereka.


"Oh ya? Bagaimana bisa anak seorang pelakor bisa menjadi ahli waris. Sedangkan keberadaan dia saja tidak diakui oleh negara, asal kalian tau anak dari pernikahan siri adalah anak yang tidak mempunyai data negara," ucap Rama kemudian. Jawaban Rama mampu membungkam mulut keluarga mereka. Termasuk gundik suamiku, wajahnya pias dan pucat. Setelah ini kita lihat siapa yang akan menangis darah.

Lanjut Baca KLIK >>> Part 2 (Part 2 Masih Proses Ditulis)


(Catatan Penting)
Website "sampahkata.site" memiliki program memuat tulisan-tulisan para Penulis Indie di Tanah Air. Oleh karena itu a
dmin mengajak kita semua untuk sama-sama berkarya dengan mengabadikan tulisan-tulisanmu di sini.

Jika teman-teman tertarik untuk berkontribusi dalam program ini, dapat mengirimkan karyanya ke Form Kirim Tulisan

Mari kita bersilaturahmi dengan bergabung dalam grup WA, caranya klik langsung tautan undangan PENULIS AMATIRAN DARI PINGGIRAN...

Follow Instagram SAMPAH KATA SENIMAN BISU

Dengarkan PODCAST CINTA DAN MUSIKALISASI PUISI 

di YOUTUBE Indie Official Poem Muraz Riksi

Terima kasih telah berkunjung ke website Sampah Kata.
Salam kopi pahit...

Seniman Bisu
Penulis Amatiran Dari Pinggiran
Secarik Ocehan Basi Tak Lebih Dari Basa-Basi


Sampah Kata

Seniman Bisu